Jangan petuahi kami perihal amal dan dosa. Usah pula berbuih ludah mendongengkan elok surga dan bengis neraka. Kelaparan lebih mengerikan dari kematian. Jika mati sudah ketetapan, lapar adalah bagian dari kekalahan. Kami pasrah dijemput maut kapan saja, tapikami enggan mati dengan perut kosong. Maka biarkanlah botol-botol yang mereka tikam ke tanah itu menjadi jalan rezeki kami.
Kuingat kali pertama mencari botol di kuburan. Angin yang membentur bulu tengkuk terasa lebih dingin dari biasanya. Gugup campur cemas, bergetar jemariku saat menggenggam dan mencabut pantat botol dari pucuk makam. Sekilas kubaca nama, tanggal lahir dan tanggal kematian yang tertera dengan cat hitam di kayu nisan. Antara bergumam-berbisik, kuminta maaf pada pemiliknya yang sedang tidur di bawah sana. Malamnya mataku sulit terpejam. Rusuh hati membayangkan arwah pemilik botol menyelinap masuk ke dalam mimpi, menyumpahserapahiku yang lancang mencabut botol dan menyuruhku mengembalikannya ke tempat semula.
Pengalaman pertama memang guru terbaik. Kini, buatku, mencabut botol dikuburan telah menjadi hal biasa saja layaknya makan, berak, ketawa, ataukentut. Entah berapa botol kuburan yang telah kucabuti. Melihat botol menancap di gundukan makam bagai memergoki uang yang berkilat-kilat disorot cahaya matahari. Saat mencabutnya, tak lupa kuingatkan pada orang di dalam sana agar jangan mengutukku gara-gara sebiji botol.
Sebagai imbalan, kubersihkan sampah yang berserak di sekitar makam mereka. Agar kian iba, acap kutambah-tambahi: kami membantu orangtua cari nafkah, hanya ingin bertahan hidup, atau botol itu sangat berharga buat orang miskin macam kami. Mengingatnya, aku nyengir sendiri. Serupa orang bodoh saja bicara pada angin. Untuk apa minta izin pada tulang belulang, pada daging yang telah lebur dengan tanah, pada jasad yang busuk bersama waktu?
Yang tak bernyali mencabut botol kuburan, acap menakuti-nakuti: di sana angker, rumah segala jenis hantu, nanti kualat, kesambet makhluk halus, dikutuk arwah yang murka. Yang sok alim menggurui: jangan menumpuk dosa. Ah, soal itu, biar Tuhan yang menimbang. Kami pasrah, terima bersih saja. Kami hanya menumpuk barang bekas. Ada pula yang mencetus, kelakkami akan diganjar di neraka; botol-botol itu akan ditancapkan ke anuskami. Ada yang terbahak-bahak mendengarnya, ada pula yang kontan terdiam dan berwajah murung.
Kami anjing-anjing kecil yang besar di jalanan. Diasuh debu kemarau dan
hujan yang riang. Selain bak sampah, taman kota, terminal, trotoar,
lorong-lorong pertokoan, atau pasar becek bau bacin, kuburan pun jadi
ladang pemulung cilik macam kami. Dalam kelompok-kelompok kecil—tak
pernah ada yang nekat pergi sendirian—kami sambangi kuburan.
Jika ada yang sok iba bertanya tentang orangtua, keluarga, atau kenapa
tak sekolah; kami punya jawaban berbeda untuk pertanyaan yang sama.
Senang rasanya membuat mereka terdiam, menghela napas, atau bermimik
sedih. Tak perlu sekolah untuk pandai berbohong. Jika berpapasan dengan
anak-anak berseragam sekolah di jalan, tak sungkan pula kami rampas apa
yang mereka punya: termos minuman, topi, tas, sepatu. Ada juga yang
mujur berhasil merampas telepon genggam mereka.
Kami hanya takut pada Bang Gayu, duda empat puluhan, tukang mabuk dan
buat onar. Hampir tiap hari kami dipalaknya. Kami muak, tapi tak
berdaya. Mata kirinya picek. Kabarnya, waktu bujang, mata itu ditujah
sesama preman yang berebut wilayah kekuasaan. Bang Gayu terkenal doyan
mengendap malam-malam, mengintip perempuan tidur. Yang lebih parah bila
dia kumat, salah satu dari kami akan dibawanya pergi ke tempat sepi.
Meski tengah malam, kami tak bisa mengelak di bawah ancaman. Hanya bisa
pulang meringis menahan nyeri di dubur.
***
Kami mendarat siang bolong di pemakaman umum yang terimpit di antara
rumah-rumah penduduk. Mirip stasiun berjejal penumpang di ambang
lebaran, nyaris semua kuburan yang kami datangi telah sesak menampung
jasad manusia. Makam-makam yang kompak menghadap ke satu arah itu bagai
kerumunan manusia yang gelisah menunggu moncong kereta muncul dari
barat. Tak perlu peta untuk menuntun dari satu kuburan ke kuburan
lainnya. Peta tak punya jemari untuk memungut dan menghirup kamboja yang
tumbang disentuh angin. Peta tak punya mata kaki untuk menghindari
lumpur selepas hujan. Lebih dari itu, ia tak bisa mengendus aroma kematian.
Matahari menancapkan panah-panah teriknya ke ubun- ubun. Ada kincir
bambu bungkam dekat asap tipis sisa pembakaran sampah. Bunga-bunga
kamboja berserak. Ayam-ayam liar mengorek-ngorek tanah. Konvoi semut
hitam di atas marmer putih. Cacing, ulat, dan kaki seribu menyelinap ke
balik sampah dedaunan. Banyak makam telah berlapis keramik dan berpagar
runcing. Tak sedikit pula yang telantar, nyaris rata dengan tanah,
bertahun tak diziarahi keluarganya. Pohon-pohon besar menjulang nampak
angker. Seperti ada yang mengintai kami dari balik kelam dahan dan
batangnya. Di beberapa kuburan, ada semacam pondok sederhana. Konon, di
dalam- nya ada makam keramat orang-orang sakti atau disegani di masa lampau.
Tempat yang sesekali ramai bila ada yang mati, mirip pasar tumpah
menjelang dan saat hari raya, senyap muram di hari-hari biasa itu;
memang bisa jadi tempat rehat yang enak. Kami tak ada alasan untuk
bergegas di sana. Pun tak perlu lagi beruluk salam, sopan santun saat
memasuki gerbangnya. Zaman sekarang, salam cuma basa-basi, tak lahir
dari hati. Sehangat-hangat salam, masih lebih hangat tahi ayam yang
terinjak kaki kami.
Dengan karung kumal, kami berpencar layaknya bermain di tanah lapang.
Mata kami jelalatan mengincar makam yang nampak baru, sebab di sanalah
biasanya teronggok barang yang diburu. Kebanyakan botol bening bekas
sirup, bukan bekas kecap, apalagi minuman keras. Jarang ada botol
menancap di makam-makam yang sudah dimarmer.
Mataku tersenyum memergoki botol bening hampa yang nyaris menempel
dengan kayu nisan. Mulut botol menancap dalam tanah. Pantatnya nungging
miring menuding langit. Airnya telah lama lesap dalam tanah. Hanya
butir-butir tanah kering menempel di badannya. Mungkin sisa hujan
beberapa hari silam. Kembang-kembang aneka warna yang bertabur sepanjang
puncak gundukan telah layu. Tak ingin disalip saingan, jemari kananku
mencengkeram pantat botol itu. Perlahan dan hati-hati mencabutnya,
jangan sampai mengusik tidur orang di dalam sana. Lega rasanya saat
botol itu sudah kulesakkan ke dalam karung lusuh kumal.
Kami seret langkah keluar kuburan diiringi suara ngilu gesekan botol
dalam karung. Botol-botol itu tak langsung kami jual, tapi ditumpuk
bersama barang-barang rongsok lainnya. Seminggu kemudian baru kami usung
ke lapak pengepul, menukarnya dengan lembar-lembar uang yang tak sampai
setengah jam digenggam sebelum pindah ke tangan orangtua. Itulah yang
kelak mengisi periuk dan bakul nasi di gubuk kami. Andai kami dapat
upah, lekas habis kami tukar makanan murahan atau es degan.
Beberapa kali kami bergunjing kenapa botol-botol itu ditancapkan ke
makam orang yang baru ditanam? Bukankah sia-sia menelantarkannya di
kuburan? Bukankah mereka yang sudah mati tak bisa merasakan apa-apa
lagi? Beragam pendapat kami: sebagai obat dahaga buat mereka di alam
sana, agar yang berkalang tanah selalu segar, dan lainnya. Yang pasti,
mereka yang menikam botol itu tentu tak menduga kelak ada yang
mencabutnya. Ah, kenapa bukan uang saja yang ditancapkan di gundukan
tanah itu agar kerja kami jadi lebih mudah?
Memang pernah ada yang meriang setelah mencabut botol kuburan. Mukanya
pucat pasi. Semula kami kira masuk angin biasa. Punggungnya sudah di
kerok, tapi tak ada perubahan berarti. Dia terus saja menggigil. Kami
panik, tak ada yang tahu penyakit apa yang merongrong tubuhnya. Ada yang
berbisik, dia kesambet jin penunggu pohon besar di tengah kuburan karena
kencing sembarangan di sana. Untung dia sembuh begitu saja hingga
terhindar dari rumah sakit. Dia pun tak jera mengulang perbuatannya.
Tak selalu mulus hajat kami memetik botol di kuburan. Acap kami keluar
dengan tangan kosong dan hati dongkol. Pasalnya? Tertangkap basah orang
lain! Mungkin warga sekitar yang mengurus kuburan, tukang gali kubur,
atau tukang ngaji kubur. Segerombol pemulung cilik kumal keliaran dalam
pemakaman umum barangkali memancing rasa curiga mereka. Kami seperti
diintai dari tempat tersembunyi lalu mereka muncul tiba-tiba begitu
memergoki apa yang kami perbuat. Meski serupa tapi tak sama, kami telah
hafal hardikan mereka:
”Kembalikan botol-botol itu!”
”Kecil-kecil sudah jadi maling!”
”Cari sampah di tempat lain!”
”Banyak jalan cari duit, bukan maling botol di kuburan!”
Kami, anjing-anjing kecil dengan hati ciut, terbirit-birit menjangkahi
makam demi makam. Menjauhi mereka, orang-orang uzur yang tampaknya
mengidap penyakit darah tinggi hingga mudah murka. Sepanjang jalan
pulang, gantian kami rutuki mereka. Macam kami tak tahu saja, mereka
juga kerap dapat rezeki lewat orang mati. Sudah miskin, kedekut pula.
Arwah pemilik botol dan hantu yang mukim di pohon-pohon dalam kuburan
lebih baik ketimbang orang-orang yang menggebah menimpuki kami. Mereka
tak pernah muncul tiba-tiba untuk mendamprat kami. Mereka yang lelap
berserak dalam tanah itu lebih maklum, kami datang diseret angin kemiskinan.
Dan ini rahasia perusahaan. Tak pernah kami bocorkan muasal botol kepada
pengepul. Patah ranting rezeki kami jika mereka tahu. Terbayanglah
mimiknya bila tahu dari mana asal botol-botol itu. Pengepul pun menolak
botol bermulut sumbing. Tak laku dijual ke bos besar, dalihnya. Siapa,
di mana, dan bagaimana sosok bos besar itu, kami tak pernah tahu. Yang
pasti, tiap mencabut botol, kami amati dulu bibirnya. Jika cacat, kami
kembalikan ke tempat semula. Tak mau dua kali lipat kalah kami. Sudah
tambah dosa, botol urung jadi uang pula. Belum lagi jika pengepul lengit
mencatut jumlah timbangan dan seenak udel mematok harga rongsokan yang
kami bawa.
Bang Gayu mati anjing. Tengah malam tadi dia ditikam empat lubang entah
oleh siapa. Kami pura-pura kaget, tapi dalam hati bersyukur. Sempat
kudengar bisik orang-orang yang mengekor saat mengantar kerandanya ke
kuburan: ”Nggak usah diberi air. Tancapkan saja sebotol anggur murahan
untuk menemaninya dalam kubur…” Kami terkekeh mendengarnya. Meski
melarat, orang-orang tua kampung kami masih suka guyon. Orang mati pun
bisa dijadikan bahan kelakar.
Sepoi embus angin ambang petang. Ketika orang-orang pergi dan kuburan
sudah sepi, kami bersijingkat menyambangi makamnya. Kami amati gundukan
tanah merah bertabur kembang. Kami senang dia mati. Hilang satu masalah.
Kami terkekeh melihat seorang teman mencabut botol yang baru beberapa
jam menancap di kuburnya. Aku tersenyum kecut memergoki lubang kecil
bekas botol itu.
Kubuka retsleting celana. Serupa anjing kencing, kunaikkan kaki kiri ke
nisan kayu. Kuarahkan rudal ke sasaran. Sekedip kemudian, air kekuningan
berdesis membentur gundukan tanah. ”Ini minuman tambahan untukmu, Anjing
Tua…” kataku sambil menatap namanya di nisan kayu. ”Balaslah sekarang
kalau kau bisa…” disambut kekeh yang lainnya.
Dendam yang berkarat dalam benak kami akhirnya tunai. Ada kebahagiaan
yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata saat menyaksikan air menciprati
kayu nisan dan gelembung-gelembung kecil memenuhi lubang bekas botol.
Pengalaman pertama memang guru terbaik. Kami tak peduli bila kelak di
neraka, anus kami berkali-kali dijejali botol. Orang dalam kubur ini,
yang botolnya kami cabut dan makamnya kami kencingi, telah mengajari
kami bagaimana sakitnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar